Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

April 03, 2011

Asma Nadia, Tokoh Perubahan Republika 2010



Republika kembali memilih pribadi-pribadi yang telah meniupkan angin perubahan pada bangsa ini. Dari ratusan nama yang diusulkan oleh para stakeholder Republika, terpilih tujuh orang sebagai Tokoh Perubahan Republika 2010. Mereka adalah Asma Nadia, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Soelaiman Budi Sunarto, Ustadz Fadhlan, Zainul Majdi, dan Zulkifli Hasan. Apa yang telah mereka lakukan sehingga terpilih menjadi Tokoh Perubahan Republika? Rabu, 23 Maret 2011, Republika menurunkan kisah perjuangan Asma Nadia, tokoh yang menginspirasi kaum perempuan dalam melakukan perubahan...


ASMA NADIA Menginspirasi Perempuan Menulis
Setiap cobaan yang ditimpakan pada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalimat itu kelihatannya memang klise. Tapi selalu saja terbukti kebenarannya. Dan itu pula yang dirasakan oleh Asma Nadia. Sakit yang dideritanya telah menjadikan dia salah satu penulis novel dan buku yang produktif dan inspiratif.
Sewaktu kecil, Asma adalah Asma kecil yang sakit-sakitan. Pernah katanya dia menderita sakit jantung, kemudian sakit paru-paru, bahkan juga pernah gegar otak. Jadi kehidupan Asma kecil adalah kehidupan yang akrab dengan rumah sakit. Karena sakit-sakitan itu pula yang membuat dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di IPB.

Lantas apa yang dilakukan saat berada di rumah sakit di RSCM? Membaca buku. Ibunya, yang biasa dia panggil mami, selalu membelikan buku ketika dia harus menunggu antrean di rumah sakit. Asma kadang bertanya dalam hati, dari mana uang untuk membeli buku itu, karena keluarga mereka boleh dibilang keluarga sangat sederhana. Belakangan Asma tahu bahwa ternyata dengan membeli buku itu, maminya mengorbankan makan siang.

Ketelatenan membeli buku itu tak terasa membuat koleksi buku mereka semakin banyak. Agar lebih bermanfaat, keluarga yang tinggal di pinggir rel kereta itu membuat tempat penyewaan buku yang sederhana. Uang sewa dari buku itu dibelikan lagi buku untuk menambah jumlah buku persewaan.

Asma Nadia yang bernama asli Asmarani Rosalba itu meyakini bahwa kebiasaan membaca buku sejak kecil itu secara tak langsung telah menginspirasinya menjadi penulis. Meskipun pada awalnya dia sendiri minder untuk menulis. ‘’Cerpen saya selalu mendapat kritik dari saudara saya,’’ kata Asma yang mempunyai dua saudara, salah satunya adalah penulis kawakan Helvy Tiana Rosa.

Tapi, selain memberi kritikan, Helvy tak henti-hentinya memompa motivasi agar Asma terus menulis. Helvy pula yang memberi nama ‘komersial’ sekarang ini. Nama tersebut berari nama yang menyeru. Menurut Helvy, nama Asmarani Rosalba itu sulit diingat. Karena itulah ia menciptakan nama pena untuk adiknya yang gampang diingat dan gampang diucapkan, Asma Nadia.

Asma mulai menulis serius sejak duduk di bangku SMP. Suatu ketika dia menulis sebuah cerpen yang panjang. Langsung saja cerpen itu dikritik habis saudaranya. Kritik itu dia perlakukan sebagai cambuk, sampai akhirnya cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga” dimuat di Majalah Annida pada 1990. Lima tahun kemudian ia mendapatkan penghargaan dari majalah tersebut sebagai juara pertama lomba menulis cerpen islami di tingkat nasional. Juara tersebut diraihnya dua tahun berturut-turut. Hal tersebut masih belum membuatnya percaya diri dalam menulis. Ia masih merasa bahwa profesi menulis bukanlah profesi yang menjanjikan. Sampai kakaknya, Helvy Tiana Rosa, mengatakan bahwa menulis itu tidak hanya bisa dilakukan sebagai hobi, tetapi juga bisa menjadi media dakwah.

Dari sana Asma memutuskan untuk memberi misi dalam setiap tulisannya. Tulisan-tulisan di awal karier menulisnya memfokuskan diri pada tulisan remaja. Tulisan-tulisan ini mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah dari Mizan Award sebagai pengarang fiksi remaja terbaik pada tahun 2003. Ia juga memperoleh penghargaan dari IKAPI dua tahun berturut-turut, yaitu 2001 dan 2002.


Sampai saat ini sudah 43 buku yang ia terbitkan. Novel terakhir berjudul ‘Rumah Tanpa Jendela’ yang merupakan pengembangan dari cerpennya ‘Rumah Rara’ diangkat menjadi film pada 2011. Sebelumnya, satu novel Asma juga pernah difilmkan, yaitu ‘Emak Ingin Naik Haji’. Buku-buku Asma juga sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Salah satunya adalah buku ‘Emak Ingin Naik Haji’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa India.

Buku, bagi Asma bisa menjadi media untuk melakukan perubahan. Karena itu sampai kapan pun dia tidak akan meninggalkan profesi sebagai penulis. Apalagi dari berbagai pengalaman menunjukkan bahwa buku yang dia tulis, entah itu novel, cerpen atau motivasi, mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Maret 17, 2011

"Berikan kami Al Qur'an, bukan coklat!"

“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.
Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!

(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.)

Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan. Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya. Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.

Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.
Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.
Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.

“Allahu Akbar!” teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.
Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.
Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.
“Cokelat …,” sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.
Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.
Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).
Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.
“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!” katanya hampir setengah berteriak.
Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.
Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,
“Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur’an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur’an.”
Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.
Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.
“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.
Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur’an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.
[Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.)]

== disalin dari:

“Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan“,  bab “Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!” (hal 83-86)
Penulis: Irwan Rinaldi.
Penerbit: Progressio Publishing.
Cetakan Pertama, Juni 2009
==

Sumber :


Februari 02, 2011

Aisyah Humaira


Rasulullah saw. memangilnya.. "Humaira" (Si Jelita yang kemerah-merahan pipinya). Bahkan, ia tak hanya cantik lahirnya, sopan tutur katanya, dan lembut perilakunya, tetapi juga dikenal sebagai wanita yang pintar (cerdas) dan pandai sehingga menjadikannya termasuk al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadis).

Disebutkan, muslimah yang wafat pada usia 63 tahun ini telah meriwayatkan sebanyak 2210 hadis: 297 di antaranya tersebut dalam kitab shahihain dan yang mencapai derajat muttafaq `alaih 174 hadis.

Tentang keutamannya yang lain, Aisyah ra. pernah bilang seperti ini, "Saya telah dianugerahi sembilan perkara yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun setelah Maryam binti Imran. Kesembilan perkara itu adalah:
  1. Telah datang Jibril (dalam mimpi Rasulullah saw.) dengan gambarku dan menyuruh beliau untuk menikahiku.
  2. Rasulullah saw. menikahiku dalam keadaan perawan dan tidak demikian halnya dengan istri Rasul yang lain.
  3. Rasulullah saw. wafat di pangkuanku.
  4. Sayalah yang menguburkan Rasulullah saw di rumahku. 5) Ketika wahyu turun kepada Rasulullah saw, saya pernah turut serta menemaninya di biliknya.
  5. Saya adalah putri khalifahnya dan teman kepercayaannya, yaitu Abu Bakar as-Shidiq.
  6. Telah turun permaafan (udzur) buatku dari langit (dalam peristiwa haditsul ifki').
  7. Saya telah diciptakan dalam keadaan baik (suci) untuk mendampingi orang yang baik.
  8. Saya telah dijanjikan pengampunan dan rezeki yang mulia. "

Dialah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah radhiyallahu ‘anha. Dia seorang wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat sebutan al-Humaira’. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah. Dia lahir ketika cahaya Islam telah memancar, sekitar delapan tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa kanak-kanaknya dalam asuhan sang ayah, kekasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Belum tuntas masa kanak-kanaknya ketika datang pinangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usianya baru menginjak enam tahun saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamSubhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wahyu berupa mimpi untuk memberitakan bahwa dia kelak akan menjadi istri beliau. melaksanakan akad pernikahan dengannya. Wanita mulia yang diperlihatkan oleh Allah

Dilaluinya hari-hari setelah itu di tengah keluarganya hingga tiba saatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjemputnya -tiga tahun kemudian, seusai beliau kembali dari pertempuran Badr - untuk memasuki rumah tangga yang dipenuhi cahaya nubuwwah di Madinah. Tidak satu pun di antara istri-istri beliau yang dinikahi dalam keadaan masih gadis kecuali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Seorang wanita yang mulia, sabar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kefakiran dan rasa lapar, hingga terkadang hari-hari yang panjang berlalu tanpa nyala api untuk memasak makanan apa pun. Yang ada hanyalah kurma dan air.

Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan banyak keutamaan baginya, di antaranya dengan meraih kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kecintaan yang tak tersamarkan, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal itu dari lisannya yang mulia, hingga para sahabat pun berusaha mendapatkan ridha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Siapa pun yang ingin memberikan hadiah kepada beliau biasa menangguhkannya hingga tiba saatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tempat ‘Aisyah. Di sisi lain, ada istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wanita-wanita mulia yang tak lepas dari tabiat mereka sebagai wanita. Tak urung kecemburuan pun merebak di kalangan mereka sehingga mereka mengutus Ummu Salamah untuk menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengatakan kepada manusia, siapa pun yang ingin memberikan hadiah, hendaknya memberikannya di mana pun beliau berada saat itu.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pun mengungkapkan hal itu saat beliau berada di sisinya, namun beliau tidak menjawab sepatah kata pun. Diulanginya permintaan itu setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya, dan beliau pun tetap tidak memberikan jawaban. Pada kali yang ketiga Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakannya, beliau menjawab, “Janganlah engkau menggangguku dalam permasalahan ‘Aisyah, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu dalam keadaan diriku di dalam selimut salah seorang pun dari kalian kecuali ‘Aisyah.”

Kemuliaan demi kemuliaan diraihnya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari banyak peristiwa yang dialaminya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-ayat-Nya. Suatu ketika, ‘Aisyah turut dalam perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rombongan itu pun singgah di suatu tempat. Tiba-tiba ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merasa kalungnya hilang, sementara kalung itu dipinjamnya dari Asma’, kakaknya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan para sahabat yang turut dalam rombongan itu untuk mencarinya. Terus berlangsung pencarian itu hingga masuk waktu shalat. Akan tetapi ternyata tak ada air di tempat itu sehingga para sahabat pun shalat tanpa wudhu’. Tatkala bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengeluhkan hal ini kepada beliau. Saat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-Nya tentang tayammum.

Melihat kejadian ini, Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada ‘Aisyah, “Semoga Allah memberikan balasan kepadamu berupa kebaikan. Demi Allah, tidak pernah sama sekali terjadi sesuatu padamu kecuali Allah jadikan jalan keluar bagimu dari permasalahan itu, dan Allah jadikan barakah di dalamnya bagi seluruh kaum muslimin.”

Satu peristiwa penting tercatat dalam kehidupan ‘Aisyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan kesucian dirinya. Berawal dari kepulangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pertempuran Bani Musthaliq yang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha turut dalam rombongan itu. Di tengah perjalanan, ketika rombongan tengah beristirahat, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pergi untuk menunaikan hajatnya. Namun ia kehilangan kalungnya sehingga kembali lagi untuk mencarinya. Berangkatlah rombongan dan ‘Aisyah tertinggal tanpa disadari oleh seorang pun. ‘Aisyah menunggu di tempatnya semula dengan harapan rombongan itu kembali hingga ia tertidur.

Saat itu muncullah Shafwan ibnul Mu’atthal radhiyallahu ‘anhu yang tertinggal dari rombongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat ‘Aisyah, dia pun beristirja’1 dan ‘Aisyah terbangun mendengar ucapannya. Tanpa mengatakan sesuatu pun dia persilakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk naik kendaraannya dan dituntunnya hingga bertemu dengan rombongan.

Kaum munafikin yang ditokohi oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul menghembuskan berita bohong tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Berita itu terus beredar dan mengguncangkan kaum muslimin, termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang ‘Aisyah sendiri tidak mendengarnya karena dia langsung jatuh sakit selama sebulan setelah kepulangan itu. Hanya saja ia merasa heran karena tidak menemukan sentuhan kelembutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sakitnya sebagaimana biasa bila dia sakit.

Akhirnya berita bohong itu pun sampai kepada ‘Aisyah melalui Ummu Misthah. ‘Aisyah pun menangis sejadi-jadinya dan meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tinggal sementara waktu dengan orang tuanya. Beliau pun mengizinkan.

Sementara itu, wahyu yang memutuskan perkara ini belum juga turun sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dalam urusan ini. Beliau pun menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, mengharap kejelasan dari peristiwa ini.

Di puncak kegalauan itu, dari atas langit Allah menurunkan ayat-ayatnya yang membebaskan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari segala tuduhan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, wanita mulia yang mendapatkan pembebasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari atas langit.

Dia melukiskan keadaannya pada waktu itu, “Demi Allah, saat itu aku tahu bahwa diriku terbebas dari segala tuduhan itu dan Allah akan membebaskan aku darinya. Namun, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah akan menurunkan wahyu yang dibaca dalam permasalahanku, dan aku merasa terlalu rendah untuk dibicarakan Allah di dalam ayat yang dibaca. Aku hanya berharap, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melihat mimpi yang dengannya Allah membebaskan diriku dari tuduhan itu.” Ayat-ayat itu terus terbaca oleh seluruh kaum muslimin hingga hari kiamat di dalam Surat an-Nuur ayat 11 beserta sembilan ayat berikutnya.

Wanita mulia ini menjalani hari-harinya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga tiba saatnya beliau kembali ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Delapan belas tahun usianya, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di atas pangkuannya setelah hari-hari terakhir selama sakit beliau memilih untuk dirawat di tempatnya. Beliau pun dikuburkan di kamar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sepeninggal beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebarkan ilmu yang dia dapatkan dalam rumah tangga nubuwah. Riwayatnya banyak diambil oleh para sahabat yang lain dan tercatat dalam kitab-kitab. Dia menjadi seorang pengajar bagi seluruh kaum muslimin.

Keutamaan dari sisi Allah banyak dimilikinya, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamtsarid2 atas seluruh makanan.” Bahkan Jibril ‘alaihissalam menyampaikan salam padanya melalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menyatakan, “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita bagaikan keutamaan

Tiba waktunya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kembali kepada Rabb-Nya. Wanita mulia ini wafat pada tahun 57 Hijriah dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. Ilmunya, kisah hidupnya, keharumannya namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu. Semoga Allah meridhainya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab..

Januari 30, 2011

Belajar Sabar :)

S.a.B.a.R



..Sabarnya Ayub as..
..Sabarnya Sulaiman as..
..Sabarnya Yusuf as..
..Sabarnya Musa as..


Ini bukan untuk membandingkan tingkat kesabaran diantara tiap nabi tersebut, tapi sebuah ilustrasi yang memudahkan kita untuk memahami jenis-jenis kesabaran.


  • Sabar ujian kesusahan Nabi Ayub As . Sungguh Ayub as seorang yang sangat sabar melawan godaan kesusahan yang berniat mematahkan keteguhan imannya? Allah telah mengujinya dengan berbagai penderitaan sakit fisik luar dan dalam yang sangat dahsyat dan menjijikkan, dan itu terjadi hampir sepanjang usianya.
  • Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman As. Sanggupkah kita sesabar Sulaiman as ketika ia melawan godaan kesenangan dunia yang ingin menutup hatinya? Bukankah kesenangan lebih mudah membuat kita melupakan Sang Pencipta Kesenangan ? Sungguh Sulaiman as tetap tegar dalam keimanan, walau Allah mengujinya dengan kerajaan yang besar, pasukan yang besar, kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dan sebagainya.
  • Sabar ujian kemaksiatan Nabi Yusuf As. Hamba sahaya mana yang sanggup menolak godaan wanita yang punya kekuasaan dan cantik rupawan, kalau bukan seorang Yusuf as. Dialah yang sanggup mengatakan tidak pada Zulaika ketika Allah mengujinya kesabarannya untuk berbuat maksiat bahkan ketika Allah telah menyediakan sarana yang memudahkannya untuk berbuat maksiat.
  • Sabar ujian ketaatan seorang Nabi Musa As. Inilah kesabaran seorang Musa as, yang mengeluarkan energi keberaniannya namun tetap tegar ketika berkali-kali ia mengajak Firaun untuk bertobat. Ujian ketaatan bukan sesuatu yang datang seibarat ujian kesusahan atau kesenangan, tidak pula merupakan pilihan seibarat pilihan berbuat maksiat atau menolak maksiat. Ujian ketaatan adalah ujian yang diciptakan sendiri oleh seorang manusia di jalan Allah akibat keinginannya yang kuat untuk menjalankan perintah dan larangan Allah, atau karena ingin amar makruf nahi munkar atau karena ingin sekedar beribadah secara lebih baik. Sungguh membutuhkan kesabaran yang besar ketika kita sedang berjuang ingin konsisten menjalankan shalat secara khusyuk atau ketika kita ingin memperjuangkan hak-hak umat Islam misalnya. Wallahu ’alam bish shawab
***

Astaghfirullah.. baca artikel ini jadi pengen banyak2 istighfar.. semoga bisa terus belajar menjadi hamba yang sabar, dalam segala jenis kesabaran.. aamin..


Sumber :

Januari 17, 2011

Ketika Aku Harus Memilih

Bismillahirrahmanirrahim
tulisan ini direpost dari Kafe Muslimah
semoga dapat menjadi muhasabah bersama.. ^^

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yang bertaqwa. Manusia yang sanggup taat kepada aturan main Allah dalam menjalankan hidup dan kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat-kalimat sindiran yang disengaja untuk menyakitiku. Sekarang aku memilih untuk bersyukur dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada transfer pahala dari mereka untukku jika aku mampu bersabar... Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan.

Dulu aku yakin, dengan hanya khatam Al Qur'an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.



Ketika aku harus memilih...
bantu aku Ya Allah ya Rabbi, untuk selalu memilih yang benar dimataMu

Amin

Desember 21, 2010

Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan bolehkah aku menulis surat kecil untukMu 
Tuhan bolehkan aku memohon satu hal kecil dari Mu 
Tuhan bolehkah aku hidup untuk waktu yang lama 
Tuhan bolehkan aku ada di dunia ini untuk bahagia

Ini adlh sbuah kisah nyata yg trjadi pd seorang anak bernama Gitta Sassa Wanda Cantika mantan artis cilik era tahun 1998-an atau sering dipanggil dngn nama Keke. Gadis cilik berusia 13 tahun yg divonis mengalami kanker ganas pada matanya sehingga nyaris membuat wajahnya rusak keseluruhan. Dokter memvonis bahwa gadis tersebut tdk akan dapat brtahan lama, apabila tidak dilakukan tindakan operasi. Tapi orang tuanya tdk tega jika melihat separuh wajah dari putrinya harus hilang karena operasi, dan terlebih lagi Keke adalah seorang gadis, bagaimana dia menatap masa depannya.

Kasus kanker ganas tersebut baru pertama kali terjadi di Indonesia dan menjadi perdebatan karena kanker tersebut biasa terjadi pada orang tua. Tuhan memang Maha Adil dengan segala upaya orang tuanya, maka akhirnya keke mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui kemoterapi. Bisa kalian bayangkan bertapa menyakitkan sebuah kemoterapi yang terjadi satu kali bisa membuat rontok semua helai rambut di tubuh dan itu terjadi sebanyak 25 kali pada seorang gadis kecil itu.

Ketika semua orang bersuka cita pada kesembuhan Keke, rupanya kanker itu datang kembali dengan menjadi lebih ganas. Keke pun tegar melewati hidupnya dengan kanker yang semakin mengganas pada wajah hingga menyentuh paru parunya. Tapi, hebatnya dari gadis ini, ia bertekad ingin sekolah dengan keadaan seperti ini. Hinaan bahkan cacian dari orang orang yang melihatnya tidak ia pedulikan. Yang paling menyedihkan adalah, ketika ujian kenaikan kelas. Disaat ujian tangannya tak mampu lagi bergerak, hingga hidungnya mimisan ia masih ingin terus ujian dan lulus naik kelas. Tekadnya begitu hebat, sampai-sampai Ibu Megawati memberikan penghargaaan khusus kepadanya sebagai siswa teladan.

Saat penyakitnya mulai mengganas, Keke menyadari nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis dokter yaitu 5 hari. Alhamdulillah ia dapat bertahan hingga 3 tahun lamanya. Dokter menyerah terhadap penyakit kanker yang diderita anak luar biasa ini. Pada saat menjelang nafas terakhirnya, ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanyadan terjadi pada siapapun.

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan..
Andai aku bisa kembali 
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini

Tuhan… 
Andai aku bisa kembali 
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku, 
terjadi pada orang lain

Tuhan… 
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan… 
Bolehkah aku memohon satu hal kecil dari Mu

Tuhan… 
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku 
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan… 
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, 
agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya

Tuhan… 
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi 
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan 
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan… 
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa 
Agar aku bisa memberikan arti hidup kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan.. 
Surat kecilku ini adalah surat terakhir dalam hidupku 
Andai aku bisa kembali…
Ke dunia yang Kau berikan padaku

Pada tanggal 25 desember 2006, Keke menghembuskan nafasnya, tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya


In memorial
Gitta Sassa Wanda Cantika
(19/06/91 - 25/12/06)


***
Bawa Aku Kembali

Bila ada tawa di dunia ini
Maka ada tangis di sampingnya

Bila ada keberhasilan di dunia ini
Maka ada kegagalan di sampingnya

Bila aku bisa memilih antara sekarang dan masa lalu
Aku ingin kembali ke masa lalu
Masa di mana aku masih hidup tanpa rasa sakit
Masa di mana aku masih bisa menangis karena haru
Bukan karena kesedihan melihat tangis orang tuaku

Tuhan, hidupku mungkin hanya sesaat
Namun biarkanlah hidupku menjadi cahaya bagi mereka
Bagi siapa pun yang kucintai

Tuhan, bawa aku kembali
Dalam masa indah itu walau hanya sesaat..

***

Desember 19, 2010

Gema Kehidupan



Seorang Bocah dan Ayahnya berjalan di pegunungan.

Tiba-tiba, sang anak terjatuh, terluka, dan berteriak:
“Aaaaaahhhhhh!!!”
Sang anak terkejut karena mendengar sebuah suara menirukan teriakannya dari balik pegunungan:
“Aaaaaahhhhhh!!!”
Penasaran, ia berteriak: “Siapa Kau?”
Jawaban yang diterimanya: “Siapa Kau?”
Marah mendengar respons yang didengarnya, ia kembali berteriak: “Dasar Pengecut!!!”
Lagi-lagi ia menerima jawaban yang sama: “Dasar Pengecut!!!”
Ia lalu memandang ayahnya dan bertanya: “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Sang ayahpun tersenyum dan berkata: “Anakku, perhatikanlah.”
Lalu ia berteriak ke arah pegunungan, “Aku mengagumimu!”
Suara itu menjawab teriakannya dengan: “Aku mengagumimu!”
Sang ayah kembali berteriak, “Kau adalah seorang juara!”
Suara itu menjawab: “Kau adalah seorang juara!”
Sang anak terkesima, namun masih belum mengerti
Sang ayah lalu menjelaskan:




“Orang-orang menyebutnya Gema (Echo), namun sebenarnya ia adalah Hidup (Life). Ia selalu mengembalikan apa pun yang kita katakan atau lakukan. Hidup kita adalah cermin tindakan kita. Jika kau menginginkan lebih banyak cinta di dunia, ciptakanlah lebih banyak cinta dalam hatimu. Jika kau ingin timmu lebih kompeten, tingkatkanlah kompetensi dirimu. Hal ini berlaku untuk segalanya. Hidup akan mengembalikan segala hal yang kau berikan padanya.


Sumber : A lovely story from Farrah Gray and his book “Reallionaire” 
( 9 Langkah menjadi kaya raya )



Farrah Gray adalah anak muda berkulit hitam yang dibesarkan di keluarga miskin dengan orang tua tunggal penerima bantuan publik. Di usia 6 tahun, ia menghasilkan sembilan dolar pertamanya dari menjual lotion. Di usia 8 tahun, ia mendirikan sebuah klub bisnis. Di usia 14 tahun, ia menghasilkan satu juta dolar pertamanya. Di usia 16 tahun, Farrah Gray telah menjadi Reallionaire. seorang pengusaha paripurna yang kaya luar-dalam.

****

Desember 07, 2010

Diantara Tiga Cinta

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==============================

-- 09 agt 2010, Suatu senja di alun-alun kota Solo, note ini tertulis --

Menatap semburat lembayung di langit
Baru kusadari betapa berharga kenanganmu
Saudariku seiman yg terhanyut arus waktu
Cantik dan mekar mendewasa, semarakkan keheningan lubuk
Bilakah kita menangis bersama..?
Mengakui dosa-dosa dan menatap keagungan Allah di rumahNya..?
--------------------------------------------------------------------------------------------



Sebait puisi tadi adalah yg kini kubaca dalam genggaman tanganku. Puisi yg dia berikan padaku setahun lalu. Puisi yg menandakan kecintaannya kepada Rabbnya melebihi segalanya. Bahkan dia bilang kecintaanya kepadaku menempati urutan nomor 3 setelah Allah dan keluarganya.

Kini aku menatap wajahku di dalam cermin. Jilbab putih berbahan satin yang membingkai wajahku memperkuat auraku. Riasan tipis yang kusapukan di pipi membuatku nampak mempesona. Namun tetap tak mampu menutupi mendung yang menggaris di wajahku.

Namaku Fara Listiyani. Hari ini, beberapa menit lagi aku akan menikah. Tetapi bukan dia yg akan menikahiku, tapi orang lain. Seseorang akan membaiatkan perjanjian suci yang katanya maha dahsyat. Detik dimana awal dari kehidupan baruku. Namun aku berduka.
Karena dia yang akan melafazkan ijab bukan dia yang bersemayam di dalam hati ini. Dia yang akan menyematkan cincin di jemariku bukan dia yang tersemat dalam doa – doaku. Dia adalah orang lain yg tidak aku cintai.

Rabbi......jikalau memang bukan dia yang menjadi jodohku
Maka mudahkanlah hati ini untuk melepas segala rasa di dada

Ya Alloh...aku menerimanya karena semata untuk menyelamatkan izzahku. Menyelamatkan kehormatanku yang terancam. Aku menerimanya semata karena menjaga kesucianku. Bukan karena rasa yang engkau anugerahkan kepadaku untuk dia yang lain.
Ya Alloh....mungkin ini yang terbaik untukku menurut Mu. Namun hati ini, masih sulit untuk menerima semuanya. Hatiku masih berat. Lalu terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar.

" Siapa?" aku segera menghapus airmata yang membasahi pipiku. Sial...membekas di sana. Bedak tipisku hancur.
" Ini Mbak Citra Dek " aku langsung membuka pintu. Dan dia berdiri sembari tersenyum manis seperti biasanya. Teduh. Dia langsung kaget melihat parasku.
" Anti kenapa De?" dia membimbingku ke pembaringan dan mendudukanku di sana. Akhirnya ku tumpahkan tangisku di peluk hangat tubuhnya. Ku curhakan segala sesak di dadaku sampai tak kusadari airmatanya menetesiku.
" Kenapa anti tak pernah bilang pada Mbak? Sekarang apa yang bisa mbak lakukan untuk anti?".

aku menggeleng.
" Biarlah.....aku menjalaninya mbak....ini sudah tertulis sejak dulu untukku " aku menyusut airmataku.
Mbak Citra mengeluarkan ponselnya.
" Telfon dia De, sebelum anti menjadi milik orang " aku menatapnya tak percaya. Mbak Citra yang idealis, bahkan menyuruhku meneleponnya di detik – detik terakhir.
" Keluarkan semua yang ada di dadamu ke dia " aku segera meraih ponsel yang ia sodorkan dan memencet dua belas digit angka. Terdengar nada tunggu dan di 10 detik kemudian diangkat.

" Sebentar lagi Fara menikah Kak, tapi sampai detik ini Fara masih menunggu kakak. Jaga diri baik – baik, maafkan Fara ". klik...langsung ku putus. Aku tak ingin ia mendengar isakanku. Mbak Citra mengusap bahuku lembut,
"ayo mbak Bantu membenahi riasanmu " aku manut dan diam saja ketika dia kembali membenahi riasan wajahku.

Dan...sampailah puncaknya. Tak kala seseorang mengucapkan lafaz itu. Ijab Qabul pun terucap sudah. Saat seseorang membawaku ke perjanjian mistaqa ghaliza. Perjanjian agung itu. Air mataku mengalir. Bukan haru tapi kesedihan. Aku harus melacurkan diriku dalam bingkai pernikahan. Aku....aku.......ah tak bisa ku lukiskan bagaimana perasaanku.
Dan di ruangan ini kembali, di ruangan kamarku. Saat malam tiba. Dan aku tinggal berdua dengannya. Seorang lelaki yang kini berstatus sebagai suamiku.

Aku terdiam di samping tempat tidurku yang di hias dengan indah. Malam sudah semakin larut. Namun di luar kamar masih ramai. Tiba – tiba pintuku di ketuk.
" Assalamualaykum.....ana boleh masuk Ukh?" suara di luar terdengar jelas.
" Walaykumsalam....ndak di kunci " dan seraut wajah berjenggot tipis muncul dari balik pintu. Dia suamiku kini. Tersenyum kepadaku. Shalat sunnah sudah ku tunaikan tadi siang. Tentu saja bersamanya. Dia mendekat ke arahku, namun ku beringsut ke sisi jendela.

" Kenapa Mas ingin menikah denganku?" tanyaku tiba – tiba.
" Karena Mas ingin menjaga kesucian Mas, karena Mas sayang sama Fara dan karena Mas tahu Fara butuh seseorang yang melindungi izzah Fara".
aku menghela nafas.
" Mas tahu kan? Bagaimana perasaan Fara?". dia mengangguk.
" Mas tahu, tak ada rasa cinta sedikitpun untuk Mas di hati Fara. Semua terserah Fara, Mas hanya ingin membahagiakaan Fara".
" Jangan sentuh Fara Mas, Fara belum siap " dia menunduk.
Kami sama – sama terdiam. Bermain dengan angan kami masing – masing. Aku menghapus airmata di pipiku.

" Sudah malam, tidurlah Mas. Pasti hari ini melelahkan untuk Mas. Biar Fara tidur di sofa saja " aku mengambil bantal berniat memindahkan ke sofa di samping jendela. Tapi dia menahan tanganku, sejurus kemudian ia menarik tangannya.
" Afwan Ukh " aku hanya diam saja dingin." Biar ana saja yang tidur di sofa, anti di tempat tidur saja " tanpa menunggu jawabanku dia langsung beranjak ke sofa.

Aku tak melepas jilbabku . Lampu pun tak ku matikan. Risih rasanya berada satu ruangan dengan orang asing. Ya Allah masih asingkah dia bagiku? Bukankah ia seharusnya menjadi pemilik tulang rusuk ini?
Dia adalah suamiku sendiri. Air mataku kembali menetes. Ya Rabb.......

Bayanganku kembali melintas sosoknya. Sosok sederhana dimana aku melihat diriku dalam sosoknya. Dia yang seringkali memarahiku. Dia yang aku cintai. Harusnya aku sabar menunggunya namun keadaan yang memaksaku.
Ya Alloh......Hatiku masih mengharapkannya.
--------------------------------------------------------

Aku merebahkan tubuh di sofa, ingin rasanya aku menangis. Tapi aku laki – laki, tak pantas menangisi hal seperti ini. Dia yang kini kucintai sepenuh hatiku menolak untuk kusentuh. Bahkan aku tahu di hatinya tak ada tempat untukku. Karena bukan aku yang dia cintai. Dulu aku menyayanginya. Gadis kecil yang tegar dan ceria, aku sudah jatuh hati kepadanya sejak pertama kali aku mengenalnya.

Sampai hari ini saat aku membawanya ke pernikahan agung. Aku semakin mencintainya. Dia selalu mengalir dalam detak jantungku bersama nadiku. Dia ya dia....yang sekarang menjadi istriku. Aku tahu pasti bagaimana kehidupannya. Dan juga keluarganya. Aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Itu saja. Yang lain tak akan pernah kupikirkan.Yang ku pikirkan hanyalah bagaimana aku mengeluarkan dia dari rumahnya dan menyelamatkan dia dari ayah tirinya yang kejam dan menyiksanya tiap hari. Aku hanya ingin membahagiakannya. Hanya itu.

Aku tahu dia mencintai seseorang dan seseorang itu pula yang juga mencintainya. Sedang orang itu belum bisa saat ini melindunginya. Dan aku tak mau melihatnya terlalu lama hidup dalam neraka dirumahnya bersama ayah tirinya. Aku tahu, ini menyakitkan bagi kami bertiga. Tapi aku berjanji, andai ikhwan itu siap, aku bersedia merelakan Fara untuknnya. Membahagiakan Fara dengan jalan apapun. Saat ini biarlah ku jaga Fara. Menjaga dan membuatnya tersenyum sudah cukup bagiku. Melihatnya baik – baik saja di dekatku itu sudah cukup bagiku.

Aku melirik jam di dinding. Jam setengah dua belas. Ku lihat di atas pembaringan Fara sudah terlelap. Ah bahkan ia pun tak mau melepas jilbabnya. Aku memang orang lain untuknya. Aku mengambil jaket yang tersampir di belakang pintu.Ku pandang wajah Fara sejenak. Tidurnya pulas dan tenang. Bahkan terlihat begitu damai. Ingin sekali ku usap wajahnya itu namun aku tak berani. Aku takut dia terbangun dan marah padaku.

Dengan pelan ku buka jendela kamarku. Aku melompat ke semak – semak kemudian langsung turun ke jalan. Aku berlari menjauhi rumah. Dan ku stop angkot yang lewat.Tak sampai 20 menit aku sampai di sebuh rumah kos. Ku ambil hp.
" Assalammualaykum. Udah tidur akh? Bisa keluar ke jalan nggak?" langsung ku tutup. Beberapa saat seorang ikhwan sebaya denganku membuka gerbang rumah.
" Fainan?" pekiknya kaget. Aku tersenyum.
" Temani ana jalan - jalan ke alun – alun malam ini ya?".

aku menggandengnya. Yah....aku bersama Hanif. Dialah sahabatku, ikhwan yang di cintai istriku. Dialah ikhwan yg mencintai Fara dan Fara mencintainya. Dia nampak kebingungan. Di bawah pohon beringin aku dan dia duduk bersama. Memandang bintang.
" Ana sama sekali tak menyentuhnya. Tenang saja saudaraku.." ucapku lirih.
" Maafkan ana Akh...karena ana yang berada di hatinya dan membuat antum seperti ini " ujar Hanif.
Aku hanya tersenyum.
" Ana akan menjaganya, sampai antum siap tegak menjaganya " kataku lagi.
" Ya Allah...apa antum sudah gila akh? Permainan macam apa ini? Ana sudah mengiklaskannya " hanif berkata kaget.
" Antum mau kan membahagiakannya kelak?" tanyaku.

Dia menggeleng tegas.
" Tidak...tak pantas aku mengharapkan istri orang", balas Hanif.
" Tolong akh...." Aku memohon dengan sangat.
Hanif malah menangis memelukku.
" Aku juga sangat mencintainya Akh...sangat..!! Sampai aku merasa berdosa kepada Nya. Tak pantas rasanya memiliki perasaan kepada seorang yang bukan mahramku dan sudah menjadi istri orang. Tapi aku ingin ada yang menjaganya dan aku tak bisa untuk saat ini. Hanya engkaulah lelaki yg pantas mendampinginya saudaraku Fainan, karena itu aku mengikhlaskannya untuk antum " kata hanif dgn mata basah." Cinta itu bisa di tumbuhkan. Percayalah Fai...yang di butuhkan hanya kesabaran antum, Percayalah..!" lanjutnya.

Aku dan dia berbagi hati. Sampai dini hari dan aku harus pulang. Aku takut kalau Fara bangun dan dia tak melihatku di sofa. Aku memeluknya erat. Sahabatku, maafkan aku...
--------------------------------------------------------

Aku menyiapkan nasi goreng untuk Mas Fainan. Sebentar lagi dia berangkat kerja, sampai malam nanti. Dia kuliah malam. Kami sudah mengontrak rumah sendiri. Tapi seperti biasa, kami selalu diam. Hanya sesekali kami berdiskusi bila ada hal yang penting.Dia sudah duduk di meja makan takala aku mengeluarkan nasi goreng. Aku belum membuatkan dia teh hangat. Dengan cepat ku siapkan juga minumnya.

" Syukron Ukh " aku mengangguk. Seperti biasa aku hanya diam. Dia menghabiskan sarapannya dalam diam. Sementara aku masuk ke kamar dan berganti gamis juga jilbab. Aku mau ke kampus. Saat aku mau berangkat berbarengan dengan dia.
" Mau ke kampus?" tanyanya. Aku mengangguk. Kami keluar rumah bareng. Menunggu angkot juga bareng. Bahkan naik angkot yang sama. Tapi tak ada satupun yang tahu bahwa kami adalah suami istri.

Tak berapa lama ada sepasang suami istri yang masuk. Mesra keduanya bergandengan tangan. Bahkan bercengkerema dengan asyik di dalam angkot. Kampusku semakin dekat. Ku panggil dia.
" Mas, Fara duluan. Assalamualaykum. Depan stop ya Bang " langsung ku cium tangannya.
Dia nampak speechless, aku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Spontan saja yg kulakukan tadi.

Sorenya aku kehujanan saat pulang. Ku rasakan tubuhku menggigil kedinginan. Aku pusing. Ku rebahan di sofa ruang tamu. Antara sadar dan tak sadar kurasakan seseorang menggendongku.,emindahkanku ke kamar kemudian mengompresku.Menyelimutiku dengan selimut.Tengah malam ku tersadar. Mas Fai tertidur di sampingku. Di sampingnnya ada baskom air dan kain handuk. Dia menjagaku. Aku menatap wajahnya yang begitu dekat denganku. Bahkan aku sampai merasakan desahan nafasnya. Wajahnya yang bersih, jenggot tipisnya dan bibirnya yang selalu tersenyum.

Aku merasa bersalah padanya. Aku merasa sangat berdosa menyiksanya seperti ini. Dua bulan pernikahan kami. Tapi aku masih dingin kepadanya. Bahkan sehelai rambutkupun ia tak pernah tahu.Mas Fai..maafkan aku. Dihatiku masih dia yang bersemayam kuat. Sulit tuk kulupakan. Bahkan aku masih berharap dia yang sekarang di rumah ini. Di sampingku.
--------------------******************---------------------

Pulang dari kajian rumah nampak sepi. Ku cari buku 'Menjadi Pembela Islam'di kamar. Tak ada. Tak kulihat Fara di rumah. Ku obrak abrik kamarku. Oh ya buku itu di pinjam Fara. Ragu ku melangkah ke kemarnya yan berada di sebelah kamarku. Ku putar gerendel pintu tak di kunci. Mungkin dia pergi. Ku langkahkan kaki menuju rak buku. Aku jarang masuk ke kamarnya. Aku takut dia marah. Nanti jika dia ada aku akan memberitahu dia.

Ku susuri satu persatu susunan buku. Mencari buku berwarna biru. Di bagian atas tak ada, ku susuri namun tak ketemu.Tiba – tiba pintu kamar mandi terbuka. Dan .........aku kaget, wajah di depanku pias. Pucat. Ubun – ubunku langsung panas. Kulihat istriku terbungkus handuk dengan rambut terurai basah. Tubuhnya masih agak basah.

" Eeeng...eh...afwan Ukh....ana kira anti tak di rumah. Ana butuh buku MPI " dia nampak masih kaget. Keringat dingin membasahiku , aku menelan ludah.
" Eh...di atas meja...di bawah kamus " aku langsung menundukan pandangan dan berbalik membelakangi dia. Ku cari di meja dan ketemu." Ana minta maaf " aku langsung berjalan cepat ke luar kamar. Sial...aku menabrak kursi.....

Sampai di kamar aku langsung ke kamar mandi dan membasuh mukaku di wastafel. Detak jantungku masih sangat abnormal dan cepat sekali. Pemandangan tadi masih terbayang jelas dimataku.

" Ya Alloh...jagalah kesucianku " rambut hitam sebahu yang terurai. Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh................" Rabbi...Rabbi...tolong hamba ya Alloh menahan gejolak hati ini " aku merendamkan kepalaku di bak mandi. Untuk menghilangkan bayangan Fara tadi. Sejam kemudian Fara memanggilku.

" Makan siang sudah siap Mas " aku keluar dengan dada berdebar. Dia hanya diam. Mengangsurkan piring padaku. Dadaku semakin berdebar. Ku gigit ujung jariku. Sakit.Aku makan dengan pelan. Pepes ikan yang ia buat sangat enak. Aku meliriknya yang juga lahap makan.

" Maafkan Mas tadi Ra " dia tersenyum dan mengangguk. Kali ini aku benar – benar melihat senyum tulusnya.
" Lupakan saja......jangan di bahas lagi " aku diam.
Ya Alloh...sampai kapan kami akan hidup seperti ini,padahal kami suami istri. Luluhkan hatinya untuk memberiku kesempatan padaku ya Alloh.
--------------------------------------------

Hari ini tumben Sarah ke rumah. Sarah adiknya Mas Fainan. Ia seumuran denganku bahkan lebih tua dia beberapa bulan.
" Mbak Fara...Sarah mau ngomong " ucapnya tho the point. Aku diam.
" Aku akan menikah dengan Mas Hanif " deg...bagaikan petir menyambar di siang hari.
" Maksudnya?"
" Iya..Mas Hanif akan melamar Sarah. Dan Sarah ke sini mau minta izin ke Mas Fai" tiba – tiba mataku panas. Aku memangis.

" Sarah tahu...Mbak mencintai Mas Hanif. Sarah juga tahu kalau Mas Hanif mencintai Mbak Fara, dan Sarah tahu Mas Fai akan menentang Sarah. Karena bagi dia kebahagiaan Mbak lebih utama. Dia tak mau melihat mbak terluka..Tapi Sarah ingin mbak sadar. Selamanya mbak tak boleh egois dan mendhzalimi kakakku " lanjutnya.

Egois..??? kata hatiku bingung.

" Mbak tahu? Mas Fai sangat mencintai mbak. Bahkan rela hidup seperti ini dalam rumah tangga. Apa mbak tahu kalau Mas Fainan pernah memohon ke Mas Hanif untuk menikahi mbak Fara jika mas Hanif sudah siap..? Apa mbak tahu berapa banyak pengorbanan Mas Fai untuk membuat mbak bahagia? Apa mbak tahu kalau dia seringkali shaum untuk menjaga kesucianya agar tak menyentuh mbak? Agar mbak tetap suci untuk Mas Hanif kelak. Dia harusnya terluka....karena mbak mencintai orang lain. Tapi Mas Fai tetep sabar dan selalu tersenyum bukan?" Farah mencecarku. Aku semakin terisak.

" Mbak Fara egois, hanya mengejar kebahagiaan mbak semata dengan mengorbankan orang lain. Tak semua yang mbak inginkan harus mbak dapatkan. Cinta itu tak harus memiliki. Cinta itu dapat di tumbuhkan. Mbak saja yang tak mau berusaha menerima takdir mbak kalau Allah sudah mentakdirkan Mas Fai-lah jodoh mbak, bukan mas Hanif.. " lanjutnya.

" Inilah cara Mas Hanif mendewasakan mbak. Bukan ia tak cinta tapi ia tak ingin mengorbankan Mas fainan " aku terdiam. Sarah memelukku,
" Maafkan Sarah mbak, tapi Sarah sayang sama Mas Fainan. Sayang sama mbak, sarah tak ingin mbak menjadi istri yang durhaka.."
aku terisak di pangkuannya.

Ya Rabb...Benar aku terlalu menuntut keinginanku. Pernikahanku dengan Mas Fainan bukan kebetulan. Sudah Engkau gariskan dalam takdirMU. Kenapa aku terlalu mendikte-Mu ya Alloh. Aku menyiksa suamiku sendiri. Aku istri yang durhaka. Aku......aku benar – benar di butakan oleh cinta. Aku semakin terisak. Aku ingin segera bertemu dengan dia, suamiku. Aku ingin bersimpuh di kakinya.

Sarah akhirnya pulang menjelang maghrib. Malam ini aku sengaja menunggu suamiku pulang. Sampai jam delapan malam Mas Fai belum pulang. Jam sembilan, belum ada tanda – tanda pintu pagar di buka, sampai aku tertidur.
------------------------------------------------------------------------------------

Aku membuka pintu rumah pelan. Pasti Fara sudah tidur. Ku nyalakan lampu ruang tamu. Ternyata Fara tertidur di ruang tamu. Aku mengangkat tubuhnya. Andai dia bangun pasti ia tak mau aku dekati. Tapi belum sampai ke kamarnya ia terbangun dan membuka matanya. Dia diam saja tak minta di turunkan. Malah dia tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya. Ku tidurkan ia di tempat tidurnya. Dan segera ku langkahkan kaki keluar. Tapi dia menarik tanganku.

" Mas Fai...jangan pergi. Tidur saja di sini " deg.....aku takut ada yang salah dengan pendengaranku.
Dia menggenggam tanganku. Aku berbalik ke arahnya. Ada yang berbeda dengan penampilannya. Dia tak seperti biasanya selalu memakai jilbab. Kali ini dibiarkannya rambutnya terurai tanpa jilbab. Aku takut ini mimpi. Dia beranjak dari tidurnya dan langsung bersimpuh di kakiku. Mencium jemariku.

" Maafkan Fara Mas, maafkan aku. Aku ingin menjadi istri Mas sepenuhnya. Berikan aku kesempatan dan ajari Fara tentang cinta yang sesungguhnya..".

Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun aku merasa begitu bahagia. Aku berjongkok.
" Boleh Mas memeluk dek Fara?" tanyaku. Dia mengangguk.
" Bahkan lebih dari itu pun boleh " jawabnya sembari tersipu malu. Aku merangkum wajahnya di dadaku,
" Terimakasih Rabb...Kau kirimkan bidadariku " Aku rasakan malam ini adalah malam paling berbahagia yang pernah ku rasakan. Karena kini cintaku telah berbalas. Karena aku memiliki seorang istri dan bidadari di rumahku.
Terimakasih Yaa Allah, akhirnya Engkau bukakan pintu hati istriku untuk menerimaku sebagai suaminya, yaa..suaminya yang benar-benar suaminya.
---------------------------------------------------------------------------------

Padamu ku titipkan cintaku. Padamu ku titipkan rinduku..
Padamu pula ku pasrahkan raga ini, meskipun aku masih dalam tahap belajar untuk mencintaimu,
Karena cinta kepada makhluk milikku tengah di pinjam olehNya
Bantulah aku dengan kesabaranmu,dengan ketulusanmu, dan dengan cintamu..

Bagiku cukup seorang dan jikapun Allah tidak mentakdirkan,
Biarlah waktu yang akan mempertemukan bukan disini ditempat ini, tapi dikeridhoan dan keikhlasan hati

Barakallahufikum... semoga menjadi renungan dan bermanfaat..
Wassalam..
--------------------------------------------------------------------------------